Tugas 2 Membandingkan Teks “Gara-Gara Kemben, Film ‘Gending Sriwijaya’ Diprotes Budayawan”, dan Teks “’Mengapa Kau Culik Anak Kami?’ Pertanyaan Itu Belum Terjawab”
Tugas 2 hal 83 - 91
a. Teks di atas mengulas sebuah drama
berjudul “Mengapa Kau Culik Anak Kami?” Sebelum penulis teks masuk pada bagian
orientasi, terdapat dialog antara tokoh Ibu dan Bapak. Apa yang mereka
bicarakan?
Jawab: Mereka membicarakan tentang orang
yang menculik anak mereka, bahwa apakah mereka tidak mempunyai seorang ibu
sehingga dengan tega menculik anak mereka.
b. Ada berapa paragrafkah orientasi yang
terlihat pada teks tersebut?
Jawab: 3 paragraf
c. Apa tema yang diangkat dalam drama
yang ditulis dan disutradarai Seno Gumira Ajidarma ini?
Jawab: Penculikan aktuvis di era orde baru
yang cenderung dilupakan pada saat ini.
d. Mengapa banyak mata penonton yang
berkaca-kaca setelah menyaksikan pementasan drama tersebut?
Jawab: Karena setiap pergantian babak
menandai betapa pahit dan mengenaskannya hidup di republik ini.
e. Termasuk corak apa teks ulasan di
atas? Mengapa?
Jawab: termasuk corak kritik apresiasi sosial,
karena memerhatikan pandangan public atau pendapat para penonton mengenai drama
tersebut. Hal ini dibuktikan dengan kalimat “Banyak penonton berkaca-kaca
matanya menyaksikan pementasan drama sepanjang 75 menit itu,” dan “ itulah yang
membuat banyak orang teriris dan sebagian menjadi sembab matanya ketika keluar
dari gedung pertunjukan.”
a. Disebutkan oleh penulis teks ulasan
“Gara-Gara Kemben, Film “Gending Sriwijaya” Diprotes Budayawan”, Ilm, bahwa
film “Gending Sriwijaya” ini menuai kontroversi. Mengapa?
Jawab: Karena pada film ini alur cerita
(plot) film menyimpang dari sejarah Kerajaan Sriwijaya dan pakaian yang
digunakan bintang filmnya juga keliru.
b. Kepala Balai Arkeologi Palembang,
Nurhadi Rangkuti, mengatakan film ini bisa menimbulkan pembiasan sejarah. Apa
maksudnya?
Jawab: maksudnya adalah film ini bisa
mengubah atau meninggalkan sejarah yang nyata atau yang asli.
c. Tahukah kalian kebenaran sejarah yang
melatarbelakangi kehancuran Kerajaan Sriwijaya?
Jawab: iya, Kerajazan Sriwijaya hancur karena
adanya faktor eksternal yaitu munculnya kerajaan Islam yang lebih kuat dan
mampu mengalahkan eksistansi dari Kerajaan Sriwijaya.
d. Apa pula maksud kemben yang
disebut-sebut dalam teks ulasan tersebut?
Jawab: Maksud kemben disini ialah pakaian
yang seharusnya digunakan khusus untuk mandi dan mencuci pakaian di sungai,
namun di film ini kemben digambarkan sebagai pakaian sehari-hari penduduk pada
zaman itu
e. Termasuk corak apakah teks ulasan di
atas? Mengapa?
Jawab: termasuk corak kritik apresiasi
individual, karena dalam teks ini hanya diulah pandangan satu orang mengenai
film Gending Sriwijaya. Dalam teks ini, Nurhadi jelas menjadi kritikus tunggal.
1.
Dengan
menulis ulasan film dan drama secara kritis, kalian memperoleh pengalaman atas
dua hal, yaitu melatih ketangkasan nalar hingga kesanggupan berpikir logis dan
melatih kepekaan sukma hingga sanggup berpikiran estetis. Selanjutnmya, setelah
membaca ketiga teks ulasan di depan, apakah kalian menemukan perbedaan struktur
teks ketiganya? Coba kalian ceritakan bagaimana tiap penulis mengurai ulasannya
hingga terbangun teks yang ada tersebut!
No.
|
Struktur Teks:
“Belajar Ikhlas dari ‘Hafala Shalat Delisa’”
|
1.
|
1 Pagi hari dalam sebuah ruang sekolah di
Lhok Nga, desa kecil di Pantai Aceh, pada 26 Desember 2004, Delisa (Chantiq
Schagerl) berupaya khusyu menjalankan praktik shalat di depan Ustad Rahman
dan Ustazah Nur yang mengujinya. Ibunya, Ummi Salamah (Nirina Zubir), bersama
beberapa ibu lainnya menyaksikan dari luar jendela. Ucapan Sang Ustad
sebelumnya agar dia tetap fokus pada shalat meski apapun yang terjadi di
sekelilingnya benar-benar ditaati gadis kecil itu. Termasuk juga gempa yang
mengguncang dan plafon atap mulai berjatuhan. Bahkan ketika ustad Rahman dan
guru penguji lain lari keluar dan teriakan panik ibunya tidak membuatnya
beranjak. Dia tetap membaca doa shalat yang dihafalnya. Air bah tsunami pun
meluluhlantakkan tempat itu dan menenggelamkan Delisa.
2 Scene yang dahsyat dari film “Hafalan
Shalat Delisa”—jangan bandingkan dengan teknologi 3D film Amerika untuk
mendeskripsikan tsunami tersebut— membuat saya terhenyak. Seandainya saja
saya yang shalat pada saat terjadi bencana, apakah saya akan lari atau tetap
shalat dengan risiko mati dalam keadaan shalat sulit dibayangkan. Film
berlatar belakang bencana tsunami yang melanda Aceh dan berbagai tempat di
Asia Tenggara ini menewaskan ratusan ribu jiwa dan meninggalkan duka yang
mendalam.
|
2.
|
3 Film ini dibuka dengan beberapa adegan
manis dua hari sebelum malapetaka itu. Delisa tinggal bersama Ummi dan tiga
kakaknya, Fatimah (Ghina Salsabila), dan si kembar Aisyah (Reska Tania
Apriadi) dan Zahra (Riska Tania Apriadi). Abi Usman, ayahnya (Reza Rahadian),
bekerja di sebuah kapal tangker asing nun jauh dari tempat tinggal mereka.
Delisa digambarkan sulit melakukan hafalan shalat, dibangunkan shalat subuh
juga susah. Umminya sampai menjanjikan sebuah kalung berhuruf D yang dibeli
dari toko milik Koh Acan (dimainkan dengan menarik oleh Joe P Project), jika
Delisa lulus ujian praktik shalat. Seperti anak-anak kecil umumnya, Delisa
senang bermain. Dia ingin belajar bersepeda dari Tiur dan bermain bola dengan
Umam. Saya suka dengan akting Nirina Zubir yang mampu menghidupkan
spontanitas seorang ibu ketika Aisyah cemburu pada Delisa atau Delisa sedang
sedih. Ia juga menjadi imam ketika shalat bersama putri-putrinya. Awalnya
akting anak-anak ini agak kaku, namun Nirina mampu membuat suasana hidup.
Segmen ini milik Nirina.
4 Setelah tsunami menghantam, Delisa
diselamatkan seorang ranger (tentara) Amerika Serikat bernama Smith (Mike
Lewis). Sayang, kaki Delisa harus diamputasi. Dia juga dikenalkan dengan
Sophie, relawan asing lainnya yang bersimpati pada Delisa. Delisa tahu bahwa
ketiga kakaknya sudah pergi ke surga, juga Tiur dan ibunya, serta ustazah
Nur. Semua digambarkan dengan surealis melintas sebuah gerbang di lepas
pantai menunju negeri dengan mesjid yang indah. Namun keberadaan ibunya masih
misteri. Melihat keadannya, Smith ingin mengadopsi Delisa. Lelaki itu ingat
putrinya yang mati dalam kecelakaan bersama ibunya. Namun kemudian ayahnya
datang. Dia kemudian harus membangun hidupnya kembali bersama putrinya
sebagai single parent.
5 “Hafalan Shalat Delisa” tidak terjebak
dengan melodrama yang klise. Ada kesedihan yang membuat air mata keluar,
tetapi hidup tetap harus berjalan. Delisa dengan kaki satu berupaya tegar,
termasuk juga membangkitkan semangat Umam yang remuk dengan bermain bola.
Gadis ini juga memberi inspirasi pada ustad Rahman yang sempat patah
semangat. Percakapan ustad Rahman dengan Sophie di kamp pengungsi menjadi
adegan menyentuh lainnya. “Mengapa Allah menurunkan bencana ini?” Kira-kira
demikian keluhan ustad itu. Sophie menjawab, “Coba tanya Delisa. Dia
kehilangan tiga kakaknya, ibunya, sebelah kakinya, tetapi dia ingin bermain
bola.”
6 Pada segmen ini, akting Chantiq Schagerl
memukau. Aktingnya mengingatkan pada Gina Novalista dalam “Mirror Never Lies”
yang menjadi nominasi artis terbaik FFI 2011. Dia mampu mengimbangi akting
Reza Rahadian yang memang gemilang sebagai seorang ayah yang sempat remuk
hatinya. Scene ketika ayahnya membawa Delisa di reruntuhan rumah mereka
sangatmenggigit. “Abi akan bangun rumah kita lagi!” dengan tegas ayahnya berkata.
Adegan ketika Usman gagal membuat nasi goreng yang seenak buatan Ummi juga
menarik. Betapa susahnya menjadi single parent bagi seorang laki-laki.
Termasuk ketika air mata saya tidak bisa dibendung lagi melihat adegan Delisa
memeluk ayahnya, “Delisa cinta Abi karena Allah!”
|
3.
|
7 Kehadiran Koh Acan juga menghidupkan
suasana. Hal ini merupakan human interest dalam film ini. Ketika dia
menawarkan bakmi buatannya pada Delisa di kamp pengungsian memberikan
kesegaran. Begitu juga dia menengok Delisa yang sakit karena kehujanan.
Tentunya membawakan bakmi kesukaannya.
8 Film ini menuju sebuah ending apakah
umminya selamat atau setidaknya ditemukan tubuhnya. Hal ini juga begitu
menggetarkan. Namun, apapun itu Delisa digambarkan sebagai sosok yang ikhlas.
Tentunya dia juga bertekad menuaikan janjinya menyelesaikan hafalan
shalatnya. “Delisa shalat bukan demi kalung, tetapi ingin shalat yang benar.”
|
4.
|
9 Film yang
diangkat dari novel laris karya Tere Liye ini merupakan film akhir tahun dan
sekaligus juga film menyambut awal tahun 2012 yang manis. Cocok diputar untuk
menyambut peringatan tsunami sekaligus juga hari ibu
|
No.
|
Struktur Teks:
“Gara-Gara Kemben, Film ‘Gending Sriwijaya’ Diprotes Budayawan”
|
1.
|
1 Film Gending
Sriwijaya yang disutradarai Hanung Bramantyo menuai kontroversi. Sejumlah
budayawan dan peneliti sejarah di Sumatera Selatan protes karena menilai alur
cerita (plot) film menyimpang dari sejarah Kerajaan Sriwijaya. Pakaian
songket dan kemben yang dikenakan bintang film itu juga dianggap keliru.
“Harus direvisi sebelum ditayangkan karena bisa jadi pembiasan sejarah,”
tegas Kepala Balai Arkeologi Palembang, Nurhadi Rangkuti, Minggu
(21/10/2012).
|
2.
|
2 Film Gending
Sriwijaya digarap Hanung Bramantyo bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi
Sumatera Selatan menggunakan dana APBD senilai Rp11 miliar. Dalam anggaran
disebutkan film yang akan dibuat berjenis film dokumenter. Setelah selesai
film ini dikelola Badan Aset Daerah. Tender film dimenangi Putar Production
pada April 2012. Ini kerja sama kedua setelah film “Mengejar Angin”.
|
3.
|
3 Nurhadi menilai
kelemahan film Gending Sriwijaya terletak pada cerita pertentangan dan
perebutan tahta oleh dua anak raja (dalam film disebut Raja Dapunta Hyang
Srijayanasa. Nama Dapunta Hyang terukir di Prasasti Kedukan Bukit, 864
Masehi). Menurut Nurhadi, dalam sejarah Kerajaan Sriwijaya tidak pernah
terjadi pertentangan. Kehancuran Sriwijaya yang pernah menjadi kerajaan
maritim terbesar di Nusantara disebabkan faktor eksternal, tidak ada sejarah
yang mengisahkan perebutan tampuk kekuasaan di antara keturunan raja.
4 “Pertentangan dan
kehancuran kerajaan diriwayatkan terjadi karena ada serangan dari luar
kerajaan,” tegas Nurhadi. Ketua Yayasan Kebudayaan Tandipulau, Erwan
Suryanegara, protes lebih keras. “Saya berani pasang leher untuk menentang
film ini,” katanya.
5 Budayawan yang
mendapat Magister Seni Rupa dan Desain dari Institut Teknologi Bandung ini
mengatakan, kisah yang diceritakan terkesan mengada-ada karena menggabungkan
Gending Sriwijaya dengan cerita Kerajaan Sriwijaya. Dua hal ini merupakan
objek yang berbeda. Gending Sriwijaya merupakan nama tarian yang diciptakan
pada tahun 1943 ketika zaman penjajahan Jepang sebagai tarian penyambut
petinggi Jepang ketika itu. Tari ini diciptakan Sukainah Arozak, syair
diciptakan A. Muhibat. Sementara Kerajaan Sriwijaya dikisahkan dalam sejarah
mengalami kejayaan pada abad ke-7 hingga ke-13 masehi. “Dua hal ini merupakan
kisah yang berbeda, tidak dapat disatukan. Selisih waktu di antara keduanya
jauh, berabad-abad,” jelasnya.
|
4.
|
6 Erwin
mempermasalahkan riset yang dilakukan sutradara dan penulis skenario film
karena menurutnya film ini tidak didukung riset yang cukup akan latar
belakang sejarah Sriwijaya. Kekeliruan riset juga ditunjukkan dengan kostum
yang dikenakan para pemain tidak sesuai pada masanya. Para pemain mengenakan
pakaian yang tidak bercirikan pakaian Melayu ketika itu. “Kemben yang
digunakan itu bukan pakaian sehari-hari masyarakat ketika itu. Bagi kami,
pakaian itu merupakan pakaian khusus untuk ke sungai jika hendak mandi,”
ungkap budayawan yang juga menjadi pengajar di Palembang ini.
7 Sama seperti
Nurhadi, perebutan kekuasaan antara kedua anak raja kerajaan yang diceritakan
dalam film ini juga dipertanyakan Erwin. Sinopsis film Gending Sriwijaya mengisahkan
perebutan tahta kerajaan antara dua orang anak Raja Dapunta Hyang Sri
Jayanasa (diperankan Slamet Rahardjo), yakni Awang Kencana (Agus Kuntjoro)
dan Purnama Kelana (Syahrul Gunawan). “Tidak ada sejarah yang mengisahkan
perebutan kekuasaan oleh dua anak raja Kerajaan Sriwijaya,” tegasnya.
|
No.
|
Struktur Teks:
“’Mengapa Kau Culik Anak Kami?’ Pertanyaan Itu Belum Terjawab”
|
1.
|
“Apa orang-orang itu tidak punya seorang ibu yang
setidak-tidaknya pernah memperkenalkan kasih sayang, kelembutan cinta....”
“Apa kamu pikir orang-orang itu dilahirkan oleh seorang
ibu?” “Apa mereka lahir dari batu?”
“Mereka dilahirkan oleh rahim kekejaman.”
1 Dialog itu
diucapkan tokoh Ibu dan Bapak yang diperankan Niniek L. Karim dan Landung
Simatupang dalam drama “Mengapa Kau Culik Anak Kami?” Drama “Mengapa Kau
Culik Anak Kami?” ditulis dan disutradarai oleh Seno Gumira Ajidarma. Banyak
penonton berkaca-kaca matanya menyaksikanpementasan drama sepanjang 75 menit
itu, yang selama itu pula suasana dicekam oleh kepiawaian akting dua aktor
andal itu, yang satu dari Jakarta dan satu lagi dari Yogyakarta.
|
2.
|
2 Drama ini
dipentaskan di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 6—8
Agustus 2001, dan setelah itu digelar di Societeit, Taman Budaya, Yogyakarta,
16—18 Agustus. Pertunjukan diproduksi oleh Perkumpulan Seni Indonesia bekerja
sama dengan Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan).
3 Panggung diisi
oleh garapan artistik dari tokoh yang juga jarang muncul, yakni Chalid
Arifin, lulusan Institut Des Hautes Etudes Cinematographiques, Perancis.
Suasananya serba minimalis, sampai ke tata lampu maupun garapan musik oleh
Tony Prabowo yang dimainkan oleh Budi Winarto dengan saksofon soprannya.
4 Drama tersebut
diilhami oleh peristiwa penculikan aktivis di era Orde Baru-Soeharto. Drama
“Mengapa Kau Culik Anak Kami?” berwujud obrolan antara tokoh suami dan istri
yang anaknya diculik dan belum kembali. Obrolan terjadi menjelang tengah
malam. Bapak mengenakan sarung dan berkaus oblong, sedangkan Ibu bergaun
panjang.
|
3.
|
5 Kalau dilihat
secara sederhana, obrolan terbagi dua fase: fase pertama menyangkut tindak
kekejaman secara umum yang dilakukan oleh tentara, fase kedua memfokuskan
pada kehidupan Ibu-Bapak itu, yang anaknya, Satria (diperankan oleh korban
penculikan yang sebenarnya, aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk
Demokrasi, Nezar Patria) hilang diculik penguasa.
6 Berlatarkan pada
situasi politik sekarang yang cenderung ingin melupakan korban-korban
penculikan yang sampai kini tak ketahuan rimbanya, drama ini serentak
menemukan relevansi sosialnya. Dengan langsung menunjuk peristiwa-peristiwa
kekerasan yang pernah terjadi di Indonesia termasuk pada tahun 1965, drama
ini sendiri lalu seperti berada di wilayah “kesenian kontemporer” dengan
sifat khasnya: meleburnya batas antara kesenian dan kehidupan nyata; antara
ruang pribadi dan ruang publik; dan seterusnya. Apa yang dialami si Ibu-Bapak
Niniek dan Simatupang, adalah juga pengalaman sehari-hari sekian orangtua
yang kehilangan anak-anaknya, anak yang kehilangan bapaknya, diculik oleh
genderuwo penguasa politik.
|
4.
|
7 “Ini hanya sebuah
kopi dramatik dari peristiwa yang sebenarnya,” kata Seno Gumira. Seno sendiri
yang lebih dikenal khalayak sebagai penulis cerpen sebenarnya juga pernah
menggauli penulisan naskah drama. Ia pernah bergabung dengan Teater Alam,
Yogyakarta, pimpinan Azwar A.N. pada pertengahan 1970-an. Ia pernah menggelar
drama karyanya berjudul “Pertunjukan Segera Dimulai” pada 1976. Belakangan,
ia mementaskan “Tumirah Sang Mucikari” (1998) yang diilhami oleh huru-hara
politik di Tanah Air.
8 “Mengapa Kau
Culik Anak Kami?” sendiri, dari segi naskah dan strategi pementasan, boleh
jadi oleh penulis dan sutradaranya tidak langsung diparadigmakan dalam
gagasan-gagasan yang mendasari peleburan batas kesenian dan kehidupan seperti
diwacanakan oleh seni kontemporer. Suasana penantian, misalnya, mungkin masih
seperti mengacu pada “modernisme” Becket, taruhlah dalam Waiting for Godot.
9 Namun, para
pendukung, katakanlah Niniek, Simatupang, serta tidak ketinggalan penata
musik, Tony Prabowo, dengan kematangannya telah menjembatani apa yang bisa
dicapai naskah tersebut dengan publiknya. Ini masih didukung adegan sekilas
yang menjadi penting, ketika Nezar Patria tiba-tiba muncul di panggung beberapa
detik. Sementara saksofon yang melengkingkan blues oleh Budi Winarto yang
menandai pergantian babak, setiap saat menggarisbawahi, betapa pahit dan
mengenaskan sebetulnya hidup di republik ini. Itulah yang membuat hati banyak
orang teriris dan sebagian menjadi sembab matanya ketika keluar dari gedung
pertunjukan.
10 Di panggung, Niniek berujar, “Sudah setahun lebih.
Setiap malam aku berdoa mengharapkan keselamatan Satria, hidup atau mati. Aku
hanya ingin kejelasan....” Sementara Simatupang berdiri, maju ke ujung
panggung dan bermonolog, “Mengapa kau culik anak kami? Apa bisa pertanyaan
ini dijawab oleh seseorang yang merasa memberi perintah menculiknya?”
Pertanyaan itu belum terjawab di atas pentas. Juga di luar pentas.
|
2.
Seorang
kritikus dalam mengulas sebuah film atau drama harus bersikap jujur
mengungkapkan pendapat dan pandangannya terhadap apa yang telah disaksikannya.
Jujur di sini artinya bersikap terbuka dalam mengemukakan kelebihan dan
kekurangan pertunjukan itu. Memang kekurangan merupakan dorongan atas penulisan
kritik, tetapi kalian mesti membuka diri untuk melihat bagian-bagian positifnya
untuk dikemukakan kepada khalayak dalam ulasan yang kalian bangun. Apabila
memungkinkan, dalam mengulas sebuah karya dari sisi negatifnya, kalian memberikan
jalan keluarnya. Kritikus yang demikian akan disegani dan dihormati serta
didengar pendapatnya karena kritiknya jujur, benar, dan bermanfaat.
Pada ketiga teks ulasan tersebut,
apakah kritisinya (kritisi: bentuk jamak dari kritikus) sudah bersikap jujur,
benar, dan bermanfaat? Coba kalian baca sekali lagi dengan teliti, lalu
tuliskan pendapat kalian tentang kelebihan, kekurangan, dan jalan keluar yang
diberikan penulisnya pada kolom di bawah ini.
No.
|
Judul Teks Ulasan
|
Kelebihan
|
Kekurangan
|
Jalan Keluar
|
1.
|
Belajar Ikhlas dari “Hafalan Shalat Delisa”
|
a. Mampu menjadi film yang menarik
yang tidak terjebak drama klise
|
a. Penggambaran tsunami tidak maksimal
|
a. Unsur editor grafis perlu
ditingkatkan
|
2.
|
Gara-Gara Kemben, Film “Gending Sriwijaya” Diprotes
Budayawan
|
a. Mengangkat cerita berbudaya
Indonesia
|
a. Terjadi pembiasan budaya
|
a. Harus ada revisi sebelum
ditayangkan
|
3.
|
“Mengapa Kau Culik Anak Kami?” Pertanyaan Itu Belum
Terjawab
|
a. Banyak penonton berkaca-kaca
menyaksikannya
|
a. Pertanyaan seputar diculiknya anak
mereka belum terjawab
|
a. Diadakan pementasan lagi untuk
menjawab pertanyaan public ini
|
3.
Huruf
miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan
surat kabar yang dikutip dalam
tulisan. Misalnya: Berita itu muncul dalam harian Kompas. Tanda petik (“...”)
dipakai untuk mengapit judul puisi, karangan, atau bab
buku yang dipakai dalam kalimat.
Misalnya: Sajak “Pahlawanku” terdapat pada
halaman 5 buku itu. Oleh sebab itu,
penulisan judul film atau drama yang dipakai
dalam kalimat menggunakan tanda petik
(“...”), sedangkan judul novel dituliskan
dengan huruf miring.
Pada ketiga teks ulasan tersebut
terdapat beberapa kesalahan penulisan judul film dan drama. Bacalah sekali lagi
secara saksama ketiga teks ulasan itu, terutama pada
penulisan judul film dan drama.
Bisakah kalian menemukan kesalahannya? Bacalah kalimat yang tersedia di dalam
kolom berikut, lalu tulislah tanda (ѵ) pada
kolom (Benar) jika penulisan judul
dalam kalimatnya sudah tepat, dan pada kolom
(Salah) jika penulisan judul dalam
kalimat belum tepat.
No.
|
Kalimat
|
Benar
|
Salah
|
1.
|
Scene yang
dahsyat
dari film
“HafalanShalat Delisa” membuat saya terhenyak.
|
ü
|
|
2.
|
Aktingnya mengingatkan pada Gina Novalista
dalam Mirror Never Lies
yang menjadi nominasi artis terbaik FFI 2011.
|
ü
|
|
3.
|
Drama
“Mengapa Kau
Culik
Anak
Kami?” ditulis dan disutradarai oleh Seno Gumira Ajidarma.
|
ü
|
|
4.
|
Ia
pernah menggelar drama karyanya berjudul Pertunjukan Segera Dimulai pada 1976.
|
ü
|
|
5.
|
Belakangan, ia mementaskan “Tumirah
Sang Mucikari” (1998) yang
diilhami oleh
huru-hara politik di Tanah Air.
|
ü
|
|
6.
|
Film
Gending Sriwijaya
yang
disutradarai Hanung Bramantyo
menuai kontroversi.
|
ü
|
|
7.
|
Ini
kerja sama
kedua setelah film “Mengejar Angin”.
|
ü
|
|
8.
|
Film
Gending
Sriwijaya
digarap
Hanung Bramantyo bekerja
sama dengan
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menggunakan dana APBD.
|
ü
|
|
9.
|
Film
“Hafalan
Shalat
Delisa”
diangkat dari novel yang berjudul sama, Hafalan Shalat Delisa.
|
ü
|
|
10.
|
Nurhadi menilai kelemahan film “Gending Sriwijaya” terletak pada cerita pertentangan dan
perebutan tahta oleh dua anak raja
|
ü
|
0 comments :
Posting Komentar