Tugas 3 Menyunting Teks Pantun

5 Februari 2016

Tugas 3 Menyunting Teks Pantun


Setelah kalian membuat abstraksi beberapa sajak di atas, kalian bisa menuangkan
ide masing-masing sajak, yaitu “Syair Nyanyian Anak”, “Syair Burung Nuri”, “Gurindam
Dua Belas”, dan puisi “Hujan Bulan Juni”, menjadi bait-bait pantun yang indah.
Ketika membuat pantun, pertama kali yang harus kalian lakukan adalah menentukan isinya, yang nantinya akan menjadi baris ketiga dan keempat dalam bait pantun. Isi merupakan maksud yang hendak kalian sampaikan. Setelah itu, sampiran yang akan kalian buat disesuaikan dengan isi tersebut. Pilihlah kata yang memiliki suku kata berpola a-b-a-b untuk tiap barisnya, sehingga terbentuk rima dan ritme yang indah. Kaitan rima sangat penting dalam sebuah pantun. Agar pantun menjadi lebih
indah dan bermakna, ada baiknya kalimat pada tiap barisnya memiliki hubungan satu
sama lainnya, sehingga terlihat keterkaitan antara sampiran dan isi. Kalian pasti bisa
melakukannya.

Sekarang, cobalah buat sebait pantun untuk tiap sajak yang telah kalian
abstraksikan.
(1) Untuk syair “Nyanyian Anak”, kalian bisa membuat pantun nasihat.
           
Rasa hambar sepotong roti
            Ditinggal tuan sedari tadi
            Ibu bapak riang hati
            Punya anak watak berbudi

 (2) Dari “Syair Burung Nuri”, kalian bisa membuat pantun berkasih-kasihan atau
pantun perpisahan, sebab syair ini berisi kisah kasih yang disamarkan. Akan tetapi,
syair tersebut ditutup dengan /lupakan nuri dengan warnanya/. Hal ini bermakna
bahwa kisah kasih tersebut kandas di tengah jalan.
           
Tahun ganti tek terasa
Tubuh ini semakin tua
Hati miris rasa tersiksa
Kasih tak sampai berpisah jua

 (3) Pada “Gurindam Dua Belas”, kalian bisa membuat sebuah pantun agama, sebab
gurindam ini berisi wejangan atau nasihat agama yang berguna bagi masyarakat.

            Senja tenggelam sinar surya
            Malam datang gelap bumi
Patuh taatlah kepada-Nya
            Kelak surga yang kau huni     

 (4) Pada puisi “Hujan Bulan Juni”, Sapardi Djoko Damono ingin menyampaikan pesan
rindu yang tertahan dengan bahasanya yang sederhana, tetapi sarat akan makna.
Pantun beriba hati dapat kalian buat dengan ide puisi ini. Hal ini disebabkan dalam
puisi itu terlihat sebuah kemustahilan untuk menyampaikan rindu yang terpendam,
sama mustahilnya dengan adanya hujan di bulan Juni.

Angin berbisik goyangkan dahan
Dahan berayun menyapa petang
Rindu memuncak perlahan-lahan

Sayangnya kasih milik orang

0 comments :

Posting Komentar