Tugas 4 Menginterpretasikan Makna Teks “Teater Gandrik Ubah Kisah Pahlawan Super Jadi Kritik Sosial”
Tugas 4 hal.97 - 99
Pada kegiatan sebelumnya, kalian sudah membuat teks ulasan tentang drama “Gundala
Gawat” yang dipentaskan oleh Teater Gandrik. Bandingkanlah teks ulasan
yang telah kalian buat itu dengan teks ulasan serupa
yang ditulis oleh Munarsih Sahana berikut ini. Perhatikan dengan saksama struktur yang membangun teks tersebut dan
kaidah kebahasaan yang digunakannya.
1.
Bacalah teks ulasan yang berjudul “Teater Gandrik Ubah
Kisah Pahlawan Super Jadi Kritik Sosial” berikut ini. Sambil membaca, identifikasilah siapa
yang menjadi pahlawan supernya dan apa
yang telah dilakukannya.
2.
Masalah apa yang dikritik dalam pementasan drama tersebut?
Jawab: Dalam pementasan drama tersebut hal yang dikritik adalah
peristiwa penyerangan lapas Cebongan, kegagalan Ujian Nasional, dan kasus-kasus
korupsi.
3.
Mengapa Goenawan Mohamad mengatakakan drama tersebut hanya guyonan belaka?
Jawab:
Goenawan Mohamad mengatakan drama tersebut hanya guyonan
belaka karena jika kita melihat lelucon lalu dicari maknanya maka leluconnya
hilang. Jadi, kita harus bisa ketawauntuk hal-hal yang serius juga.
4.
Adakah informasi tambahan yang kalian peroleh tentang “Gundala Gawat” melalui teks “Teater Gandrik Ubah Kisah Pahlawan Super Jadi Kritik Sosial” tersebut?
Jawab:
Informasi tambahan
yang kita peroleh:
·
Sujiwo Tedjo menilai bahwa karya Goenawan
tersebut penuh dengan lelucon dan masih mirip dengan kolom “Catatan Pinggir”
karya Goenawan di majalah Tempo.
·
Tiket untuk pentas di Taman Ismail Marzuki
Jakarta 26 dan 27 April 2013 sudah habis terjual sehingga ada pementasan
tambahan malam berikutnya. Pada Juli 2013, Teater Gandrik pentas di Surabaya
dan di kota-kota lainnya di Indonesia.
·
Ria, yang selama ini aktif dalam pementasan
teater boneka Papermoon merasa bangga pada pementasan drama “Gundala Gawat”.
Alasannya, pementasan seperti ini terbilang langka, mengingat
penyelenggaraannya tidak mudah dan sulit mencari dukungan sponsor.
5.
Tulis ulanglah teks ulasan mengenai drama “Gundala Gawat” ini dengan menggunakan kalimat sendiri tanpa mengutip satu kalimat pun dari kedua teks ulasan yang telah disajikan tentang drama tersebut. Pada teks ulasan yang kalian
buat itu, pikirkan agar semua tahapan tidak terlewatkan. Untuk itu, kalian bisa menggali informasi dari berbagai media, seperti buku, majalah, koran, dan/atau
internet.
Jawab:
Teater
Gundala Gawat memberikan pengertian kepada penonton dalam sebuah pendapatnya,
”yang paling menonjol dari sebuah pementasan drama adalah bagaimana kejelian
sutradara mengalirkan plot. Sehingga dramaturgi yang terbentuk akan menjadi
penanda bagaimana emosi penonton ikut dan hanyut ke dalam semangat
pertunjukan.”
Menyaksikan
secara utuh, pementasan Teater Gandrik pada sajian ”Gundala Gawat” dari sejak
gladi resik, pementasan hari pertama dan kedua, dan mensinergikan dalam
pemahaman saya mencerna apa yang dikatakan Rendra dalam kredonya tersebut,
cukup berhasil saya rasa Djaduk Ferianto memainkan perannya sebagai sutradara.
Ritme yang mengalir untuk menggarap dramaturgi dimunculkan dari kreativitas
yang aneka. Dari pengolahan plot yang saling sinambung dan terjaga. Dari
abstraksi, klimaks dan anti klimaks, cukup mengalir memberikan tanya yang
berjawab bagi benak segenap penonton.
Naik
turun penasaran penonton dimainkan dengan akumulasi permainan cahaya atau
lighting yang sinergi dengan rancak, jenaka dan senyapnya olahan permainan
musik dan layar digital animasi yang kaya nuansa. Apalagi dengan gaya sampakan
atau akting semau gua yang akhirnya menjadi ciri khas para ”gandriker” yang
sesekali meloncat dari naskah. Berupa celotehan dan spontanitas yang
kontekstual dengan alur. Tentu saja fragmen begini, yang selalu menjadi ciri
mereka dan ditunggu para pecinta dan fans beratnya untuk menghasilkan senyum
dan bahkan tawa ngakak. Apalagi telah dua tahun grup teater dari Njogja ini,
absen dari perhelatan, dan ditinggal pergi Heru Kesawa Murti, salah satu
dedengkotnya, yang meninggal dalam usia 54 tahun karena sakit. Menjadikan
pementasan yang emosional bagi para anggota Gandrik, kiranya, seperti ingin
menunjukkan sebuah semangat, “Teater Gandrik akan terus hidup dan berpentas!”
Hanya
saja, bahwa, Susilo Nugroho, yang akrab dikenali sebagai si Den Baguse Ngarso
dan menjadi pemeran Gundala, dalam beberapa adegan nampak kedodoran, berakting
tidak seperti biasanya. Bagaimana pun, ialah aktor utama dalam pelakonan pentas
itu. Jika semangatnya naik turun, pastilah berakibat bagi yang lain untuk naik
turun. Seringkali ia melakukan hal yang fatal. Yaitu terlambat masuk ke dalam
timing. Sehingga naskah yang semestinya lucu secara naskah,lantas tak
menghasilkan senyum atau ketawa penonton, alias hambar-hambar saja. Begitupun,
adegan yang semestinya dramatis. Menyepikan suasana untuk memberi nuansa
tragis, atau sitegang sebagai gambaran tajamnya persoalan peristiwa, jadi naik
turun pula maknanya dalam pencernaan penonton.
Untungnya
ada Butet Kartaredjasa, seperti yang dilihat bermain nyaris prima dan
konsisten. Hanya saja pada pementasan hari pertama, ia sedikit down untuk
memberi nuansa dramatis pada ending pementasan. Sebagaimana
karakternya yang kuat, yaitu bersuara besar dan serak, dan pandai mengatur
tempo pengucapan, jelaslah ia jago orasi yang mumpuni. Sehingga pintar membetot
sepenuhnya perhatian penonton. Hanya tertuju kepadanya, begitulah misteri
panggung itu jika sudah jinak. Namun, kali itu, ia mengalami dilema,
terlambat timing. Sehingga semestinya, kalimat terakhir yang
menggelegar dan giris itu ;
”Kalau
saja para superhero tidak lagi gagah menyuarakan kebenaran. Titenono…
SOPO LENO, TAK PETIR NDASMU!” … akan ikut pula memalu dan menggodam
perasaan penonton. Dan menjadikan sepi ruang alam: alam panggung, alam Concert
Hall, alam penonton, sesepi kuburan. Sehingga pada akhirnya, akan dibawa pulang
sepi itu untuk terus direnungkan menjadi semacam bahan-bahan untuk mengolah
lagi..
Secara
umum, para aktor cukup mumpuni memainkan perannya. Lucu, berisi dan
kritis.Terhadap pernyataan GM, bahwa pelakonan ini seperti bermakna guyonan
belaka ada benarnya. Tapi juga sebuah pandangan lain dari arti sebuah guyonan,
bahwa, disampaikan dengan kaidah Teater Gandrik, terasa bedanya. Akumulasi dari
keseluruhan kinerja jeli sang sutradara dan dibantu seperangkat artistik
kepercayaannya, memungkinkan memberi cakrawala lain di hati dan benak pemirsa.
Thanks bro atas postingan jawabannya
BalasHapus